5 Bidang Kerjasama Indonesia-Jerman
Upaya peningkatan hubungan kerjasama
bilateral Indonesia dan Jerman menjadi momentum yang kuat sejalan dengan
kunjungan Presiden Republik Federal Jerman, Dr. Christian Wulff ke Indonesia
pada tanggal 30 November - 2 Desember 2011 menjelang peringatan 60 tahun
hubungan diplomatik Indonesia dan Jerman pada tahun 2012. Kunjungan Presiden
Republik Federal Jerman dapat dijadikan acuan dalam rangka memperkuat hubungan
kerjasama bilateral Indonesia dan Jerman pada tingkat yang lebih strategis dan
komprehensif.
Pertemuan bilateral antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Republik Federal Jerman yang dilaksanakan pada tanggal 1 Desember 2011 telah membahas berbagai isu yang fundamental bagi hubungan kedua negara dan prioritas bidang kerjasama di masa mendatang.
Dalam pertemuan bilateral dimaksud, Indonesia mengusulkan untuk menjajaki peluang peningkatan kerjasama di lima bidang kerjasama strategis Indonesia-Jerman antara lain :
• Kerjasama Bidang Investasi dan Perdagangan
Investasi dan perdagangan meskipun berkembang baik, sekarang ini volume perdagangan Indonesia dan Jerman mencapai US$ 6 milyar, naik 22 persen dari tahun sebelumnya. Investasi dua tahun terakhir mencapai US$ 300 juta lebih, yang masih bisa ditingkatkan lebih tinggi lagi. Indonesia memiliki MP3EI, suatu master plan untuk percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi.
Indonesia mengundang Jerman untuk menjadi salah satu strategic partner dalam pengembangan dan investasi di Indonesia. Ekonomi domestik Indonesia terus menguat.Kondisi ini sejalan dengan upaya global mencapai pertumbuhan global yang kuat sebagaimana kerangka G-20 dan juga to rebalance equal economy, membuat perekonomian global lebih berimbang.
• Kerjasama Bidang Kesehatan
Indonesia mengharapkan untuk dapat melakukan kerjasama dengan Jerman di bidang kesehatan. Jerman memiliki tehnologi dan manajemen kesehatan yang sangat maju dan Indonesia memerlukan dukungan tehnologi dan menajemen kesehatan yang lebih baik.
• Kerjasama Bidang Pendidikan
Indonesia menggaris bawahi pentingnya kerjasama pendidikan di Jerman terutama pendidikan di bidang teknologi. Indonesia memerlukan ribuan engineers yang akan membangun infrastruktur, mengembangkan industri dan konektifitas pada masa 10, 20, 30 tahun mendatang.
• Kerjasama Bidang Riset Teknologi dan Inovasi.
Indonesia mengusulkan kerjasama di bidang riset teknologi dan inovasi termasuk perlunya kerjasama di bidang clean energy, seperti geothermal kemudian clean coal technology dan energi ramah lingkungan.
• Kerjasama Bidang Industri Pertahanan
Indonesia mengusulkan kerjasama bidang industri pertahanan, contohnya PT. Dirgantara Indonesia, yang sekarang ada kerjasama dengan Airbus Military. Jerman memiliki kapasitas untuk industri pertahanan dan mengusulkan kerjasama yang strategis, jangka panjang yang tidak hanya meliputi procurement tetapi juga joint investment dan joint production.
Pertemuan bilateral antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Republik Federal Jerman yang dilaksanakan pada tanggal 1 Desember 2011 telah membahas berbagai isu yang fundamental bagi hubungan kedua negara dan prioritas bidang kerjasama di masa mendatang.
Dalam pertemuan bilateral dimaksud, Indonesia mengusulkan untuk menjajaki peluang peningkatan kerjasama di lima bidang kerjasama strategis Indonesia-Jerman antara lain :
• Kerjasama Bidang Investasi dan Perdagangan
Investasi dan perdagangan meskipun berkembang baik, sekarang ini volume perdagangan Indonesia dan Jerman mencapai US$ 6 milyar, naik 22 persen dari tahun sebelumnya. Investasi dua tahun terakhir mencapai US$ 300 juta lebih, yang masih bisa ditingkatkan lebih tinggi lagi. Indonesia memiliki MP3EI, suatu master plan untuk percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi.
Indonesia mengundang Jerman untuk menjadi salah satu strategic partner dalam pengembangan dan investasi di Indonesia. Ekonomi domestik Indonesia terus menguat.Kondisi ini sejalan dengan upaya global mencapai pertumbuhan global yang kuat sebagaimana kerangka G-20 dan juga to rebalance equal economy, membuat perekonomian global lebih berimbang.
• Kerjasama Bidang Kesehatan
Indonesia mengharapkan untuk dapat melakukan kerjasama dengan Jerman di bidang kesehatan. Jerman memiliki tehnologi dan manajemen kesehatan yang sangat maju dan Indonesia memerlukan dukungan tehnologi dan menajemen kesehatan yang lebih baik.
• Kerjasama Bidang Pendidikan
Indonesia menggaris bawahi pentingnya kerjasama pendidikan di Jerman terutama pendidikan di bidang teknologi. Indonesia memerlukan ribuan engineers yang akan membangun infrastruktur, mengembangkan industri dan konektifitas pada masa 10, 20, 30 tahun mendatang.
• Kerjasama Bidang Riset Teknologi dan Inovasi.
Indonesia mengusulkan kerjasama di bidang riset teknologi dan inovasi termasuk perlunya kerjasama di bidang clean energy, seperti geothermal kemudian clean coal technology dan energi ramah lingkungan.
• Kerjasama Bidang Industri Pertahanan
Indonesia mengusulkan kerjasama bidang industri pertahanan, contohnya PT. Dirgantara Indonesia, yang sekarang ada kerjasama dengan Airbus Military. Jerman memiliki kapasitas untuk industri pertahanan dan mengusulkan kerjasama yang strategis, jangka panjang yang tidak hanya meliputi procurement tetapi juga joint investment dan joint production.
Hubungan
Bidang Pertahanan Indonesia - Amerika
Pertahanan sosial memegang peranan penting dalam membentuk masyarakat
demokratis. Indonesia pada saat sekarang dipandang sebagai negara yang
demokratis dan negara yang penduduknya sebagian besar adalah memeluk agama
Islam. Sehingga dari tahun 1976 sampai dengan 1996 Indonesia dicatat
sebagai salah satu ASEAN miracle. Yang terpenting dalam pembangunan di Indonesia
adalah menumbuhkan cultural democracy untuk meningkatkan political democracy.
Namun pada saat sekarang ini, partai politik dan juga parlemen di Indonesia
tidak memiliki political democracy. Hal disebabkan makin maraknya korupsi yang
dilakukan oleh parlemen.
Untuk itu perlu adanya kebijakan one
roof atau one door policy. Wacana supremasi militer terhadap sipil dan
sipil terhadap militer dalam tubuh Departemen Pertahanan tidak
menjadi persoalan yang perlu dikhawatirkan. Namun yang perlu dikhawatirkan
adalah peran LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dalam membantu rekonsiliasi
tersebut. Apabila LSM Indonesia sudah self financing dan tidak
tergantung oleh donor, maka political democracy dan accountability democracy
akan tercipta.
Departemen Pertahanan dalam
melaksanakan fungsinya untuk mempertahankan kedaulatan negara tidak bekerja
sendiri. Departemen Pertahanan bekerjasama dengan departemen lain untuk
meningkatkan Pertahanan Indonesia di bidang tertentu, misalnya
dengan Deprtemen ESDM (Energi Sumber Daya Mineral), Departemen Pendidikan
Nasional, dan Departemen pekerjaan Umum.
Don Eirich menegaskan tiga masalah
strategik peningkatan hubungan Indonesia dan Amerika dalam
bidang Pertahanan yaitu internal stability dan civil security, counter
terrorism dan maritime security. Don juga menjelaskan bahwa Amerika
mendorong Indonesia untuk melaksanakan kebijakannya dan Amerika
membantu Indonesia dalam bidang manajemen dan governance. Pemerintah
George Bush menjanjikan dana sebesar 175 juta US$ untuk bidang pendidikan,
khususnya basic education.
Kusnanto Anggoro, peneliti CSIS,
menjelaskan peran DPR dalam memahami peraturan perundang-undangan yang terkait
dengan masalah militer. kurangnya pemahaman anggota DPR dalam memahami
secara substansi kebijakan yang terkait dengan Pertahanan dan Pertahanan,
sehingga hal ini akan berimbas pada lahirnya kebijakan yang bias dan cenderung militeristis
atau sebaliknya.
Pertahanan dan Pertahanan, militer yang terlibat dalam
pembuatan kebijakan Pertahanan dan Pertahanan, kemungkinan tidak
adanya wakil dari militer. Namun keterlibatan militer dalam tubuh
DPR pada saat sekarang ini masih ada dengan adanya beberapa indikasi berikut
ini yaitu anggota DPR yang konservatif yang anti politik, adanya pandangan
bahwa sipil itu inferior dan adanya pemikiran yang tidak rasional tentang
penduduk sipil. Dengan demikian perlu diantisipasi agar produk hukum dari DPR
tentang Pertahanan dan Pertahanan agar tidak military heavy atau
sebaliknya yang menyebabkan timbulnya anti militer Indonesia.
Sedangkan reformasi Pertahanan
di Indonesia dapat dilakukan dengan melihat sistem nilai yang ada dalam Pertahanan
dan Pertahanan, kelembagaan Pertahanan dan Pertahanan
serta pengembangan Departemen Pertahanan dan Pertahanan.
Kesimpulannya adalah perlu adanya peningkatan pendidikan bagi Dephankan untuk
dapat melaksanakan reformasi di kalangan militer.
Military heavy bergeser dimulai pada
tahun 2000 dengan adanya perintah pada tanggal 20 April 2000 yang menyatakan
bahwa militer tidak lagi terlibat dalam urusan politik. Kebijakan ini
diperkuat dengan tertbitnya Tap MPR No 7 tahun 2000 yaitu militer tidak memiliki
peran politik dalam pemerintahan di Indonesia. Dan Undang-undang TNI
tahun 2004 juga menegaskan bahwa militer mengenal adanya supremasi
sipil. Walaupun sudah ada kebijakan yang mengenal adanya supremasi sipil, namun
masalahnya militer masih tetap tidak percaya dengan sipil, dan sipil
tidak percaya pada mereka sendiri serta kendala budget. Untuk mengatasi hal
tersebut, maka sipil harus self confident dan pemerintah harus dapat
menyediakan dana untuk melaksanakan reformasi Pertahanan dan Pertahanan.
Kerjasama
bilateral Indonesia dan China
Kerja sama bilateral Indonesia dan China merupakan suatu hubungan diplomatik yang bersifat idealis dan kompetitif. Banyaknya hal yang menguntungkan dari kerjasama ini, akan menciptakan suatu hubungan bilateral yang dinamis, bersama dengan persaingan produk Cina yang menjamur di pasaran Indonesia, membuat komditi pasar Indonesia pun, harus segera dapat menyeimbangkan pendapatan distribusi penyebaran produk China, yang telah menduduki pasaran tingkat atas pada sistem distribusian.Namun dibalik persaingan ekonomi, di kedua negara ini, yakni Indonesia dan China, kedua negara ini begitu banyak membangun diplomasi di bidang lain, selain di bidang ekonomi, Indonesia dan China terlibat dalam G-20, dan termasuk dalam ASEAN plus 3, dan Organisasi perdagangan WTO.
Ini membuktikan, bahwa Indonesia dan China masih memiliki hubungan yang berkesinambungan dalam hal kerjasama politik, yang dimana hubungan ini masih sangat diperlukan untuk saling mendukung dalam upaya meningkatkan dukungan intensitas kepercayaan internasional.
Banyaknya produk China yang menjamur di pasaran Indonesia, dikarenakan, keahlian para pengusaha dari China, yang mampu membaca situasi pasar Indonesia, yang kurang mengembangkan industri kecilnya, yang dinilai berpotensi menjadi salah satu pengembangan hegemoni baru, untuk menghasilkan komoditi yang cukup bagus bagi pasaran ekspor di luar negeri.
Hal ini menjadi sebuah problema tersedendiri yang telah dimanfaatkan China, untuk membidik pasaran Indonesia, yang dinilai oleh China, Indonesia masih mengalami pendapatan ekonomi masyarakatnya. Sehingga sebuah pencitraan konsumsi pasar baru, diciptakan oleh China, untuk mencari keuntungan tersendiri dari efek keadaan Indonesia yang rata-rata penduduknya memiliki income per kapita yang kecil, dalam statistik perekonomiannya. Diluar dari permasalahan persaingan bisnis ekonomi, Indonesia dam China, harus dapat saling memahami, untuk lebih jauh mengadakan pendekatan ke arah bidang yang lain.
Indonesia dapat mempelajari dari sistem hukum China, mengenai pemberantasan Korupsi, yang dilaksanakan Pemerintah China dengan tegas. China telah berhasil menyelesaikan dengan tegas, mengenai ekspansi korupsi, dengan menggunakan sistem hukum yang cukup berat, bagi para pelaku Korupsi di negeri China tersebut. Indonesia harus lebih bersikap dewasa dalam mengelola lebih jauh mengenai hubungan diplomasi yang kondusif dengan China. Selain AFTA China yang masuk ke dalam regionalisme ASEAN, Indonesia harus dapat dengan cermat membidik celah, untuk menyeimbangkan sektor ekonominya, agat tidak terjadi konjungtivitas terlalu jauh dengan China.
Hubungan Kerjasama Bilateral Indonesia - Ukraina
Hubungan kedua
negara ditandai oleh kunjungan Presiden Ukraina Leonid Kuchma ke Indonesia, 10-13 April 1996. Pada kunjungan
tersebut, kedua kepala negara menandatangani “Joint Declaration on Principles
of Relations and on Cooperation between the Republic of Indonesia and Ukraine.”
Hubungan di bidang politik juga ditandai oleh saling dukung pencalonan
masing-masing negara di berbagai organisasi internasional.
Dalam rangka tukar menukar pandangan tentang arah dan prioritas kebijakan luar negeri masing-masing negara, pada 8 – 9 Juni 2010 diselenggarakan Focus Group Discussion Indonesia – Ukraina, di Kyiv. Dibahas pula dalam kegiatan tersebut masalah arsitektur regional (ASEAN, UE, NATO), perkembangan domestik masing – masing negara dan isu – isu global seperti Food, Energy and Water Security (FEWS), nuklir Iran, serta kebangkitan China dan India.
Pada periode 2008 s/d 2010 telah berlangsung berbagai kegiatan dalam rangka peningkatan hubungan ekonomi, seperti kunjungan Delegasi Dagang Ukraina mengikuti Trade Expo Indonesia; Kunjungan pejabat BKPM ke Ukraina; partisipasi dalam pameran the XXI International Agricultural Exhibition Agro 2010 di Kyiv; pelaksanaan Sidang II Komisi Bersama RI-Ukraina (Juni 2009); Business Meeting di Kyiv oleh pejabat BKPM, Bappenas, Setneg; dsb.
Pada 2009, volume perdagangan RI-Ukraina mencapai USD 773,62 juta (ekspor Indonesia USD 354,68 juta dan impor Indonesia USD 418,97 juta atau defisit bagi Indonesia USD 64,28 juta). Pada tahun 2010 volume perdagangan sebesar USD 1.007,05 juta (ekspor USD 486,7 juta dan impor USD 590.3 juta atau defisit untuk Indonesia USD 103,6 juta). Ukraina menduduki peringkat ke-32 dalam daftar negara tujuan ekspor produk non-migas dari Indonesia dan peringkat ke-19 dalam daftar negara asal impor produk non-migas Indonesia. Beberapa produk ekspor utama Indonesia ke Ukraina adalah: Palm oil dan turunannya (tanpa bahan kimia), bijih nikel dan konsentrat, kopra, palm kernel, atau babasu oil dan turunannya, karet alam, balata, gutta-percha, chicle and similar natural gums, margarin, lemak/minyak nabati dan hewani, kertas dan paperboard dengan lapisan koalin, pakaian jadi, polymer ethylene, sabun, produk organik untuk bahan sabun, rempah-rempah, cokelat, teh, kopi,
Dalam rangka tukar menukar pandangan tentang arah dan prioritas kebijakan luar negeri masing-masing negara, pada 8 – 9 Juni 2010 diselenggarakan Focus Group Discussion Indonesia – Ukraina, di Kyiv. Dibahas pula dalam kegiatan tersebut masalah arsitektur regional (ASEAN, UE, NATO), perkembangan domestik masing – masing negara dan isu – isu global seperti Food, Energy and Water Security (FEWS), nuklir Iran, serta kebangkitan China dan India.
Pada periode 2008 s/d 2010 telah berlangsung berbagai kegiatan dalam rangka peningkatan hubungan ekonomi, seperti kunjungan Delegasi Dagang Ukraina mengikuti Trade Expo Indonesia; Kunjungan pejabat BKPM ke Ukraina; partisipasi dalam pameran the XXI International Agricultural Exhibition Agro 2010 di Kyiv; pelaksanaan Sidang II Komisi Bersama RI-Ukraina (Juni 2009); Business Meeting di Kyiv oleh pejabat BKPM, Bappenas, Setneg; dsb.
Pada 2009, volume perdagangan RI-Ukraina mencapai USD 773,62 juta (ekspor Indonesia USD 354,68 juta dan impor Indonesia USD 418,97 juta atau defisit bagi Indonesia USD 64,28 juta). Pada tahun 2010 volume perdagangan sebesar USD 1.007,05 juta (ekspor USD 486,7 juta dan impor USD 590.3 juta atau defisit untuk Indonesia USD 103,6 juta). Ukraina menduduki peringkat ke-32 dalam daftar negara tujuan ekspor produk non-migas dari Indonesia dan peringkat ke-19 dalam daftar negara asal impor produk non-migas Indonesia. Beberapa produk ekspor utama Indonesia ke Ukraina adalah: Palm oil dan turunannya (tanpa bahan kimia), bijih nikel dan konsentrat, kopra, palm kernel, atau babasu oil dan turunannya, karet alam, balata, gutta-percha, chicle and similar natural gums, margarin, lemak/minyak nabati dan hewani, kertas dan paperboard dengan lapisan koalin, pakaian jadi, polymer ethylene, sabun, produk organik untuk bahan sabun, rempah-rempah, cokelat, teh, kopi,
Kerjasama Perdagangan Indonesia dan Sri Lanka
Pertemuan yang dipimpin bersama oleh
kedua Menlu ini menandai era baru dalam hubungan
bilateral Indonesia-Sri Lanka. Tidak saja karena untuk pertama kalinya
kedua negara menyelenggaraan pertemuan dalam format Komisi Bersama yang mampu
menelaah secara komprehensif status kerjasama kedua
negara, namun juga karena pertemuan diselenggarakan pada kesempatan peringatan
HUT ke-60 hubungan diplomatik antara kedua
negara.
Dalam kaitan ini, Menlu Marty Natalegawa menegaskan bahwa Indonesia dan Sri Lanka akan terus memperluas hubungan kerjasama kedua negara ke berbagai sektor yang dapat membawa manfaat langsung bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.
Di samping kesepakatan mengenai peningkatan volume perdagangan, pertemuan Komisi Bersama juga telah mengidentifikasi berbagai bidang kerjasama konkrit lainnya yang dapat dimajukan, antara lain pertanian (kelapa sawit dan teh), pariwisata, kebudayaan, pendidikan, serta kerjasama teknik.
Dalam kaitan ini, Indonesia berkomitmen untuk terus memberikan bantuan kerjasama teknik bagi peningkatan kapasitas Sri Lanka di sektor-sektor yang menjadi prioritas pembangunan negara tersebut. Pada tahun 2012 ini, misalnya, Indonesia telah merencanakan program pelatihan di sektor agroindustri, khususnya buah-buahan dan sayuran, dan juga perikanan.
Komisi Bersama juga menyepakati penyelenggaraan Forum Bisnis Indonesia-Sri Lanka di Colombo pada paruh kedua tahun ini. Inisiatif ini diyakini akan dapat semakin mendekatkan sektor swasta kedua negara, dan memfasilitasi tersedianya informasi terkait potensi perdagangan dan investasi yang ada di kedua negara.
Pada kesempatan pertemuan, kedua Menlu juga menandatangani dua Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) yaitu mengenai kerjasama kebudayaan dan mengenai kerjasama pelatihan diplomatik antara Kementerian Luar Negeri kedua negara.
Dalam kaitan ini, Menlu Marty Natalegawa menegaskan bahwa Indonesia dan Sri Lanka akan terus memperluas hubungan kerjasama kedua negara ke berbagai sektor yang dapat membawa manfaat langsung bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.
Di samping kesepakatan mengenai peningkatan volume perdagangan, pertemuan Komisi Bersama juga telah mengidentifikasi berbagai bidang kerjasama konkrit lainnya yang dapat dimajukan, antara lain pertanian (kelapa sawit dan teh), pariwisata, kebudayaan, pendidikan, serta kerjasama teknik.
Dalam kaitan ini, Indonesia berkomitmen untuk terus memberikan bantuan kerjasama teknik bagi peningkatan kapasitas Sri Lanka di sektor-sektor yang menjadi prioritas pembangunan negara tersebut. Pada tahun 2012 ini, misalnya, Indonesia telah merencanakan program pelatihan di sektor agroindustri, khususnya buah-buahan dan sayuran, dan juga perikanan.
Komisi Bersama juga menyepakati penyelenggaraan Forum Bisnis Indonesia-Sri Lanka di Colombo pada paruh kedua tahun ini. Inisiatif ini diyakini akan dapat semakin mendekatkan sektor swasta kedua negara, dan memfasilitasi tersedianya informasi terkait potensi perdagangan dan investasi yang ada di kedua negara.
Pada kesempatan pertemuan, kedua Menlu juga menandatangani dua Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) yaitu mengenai kerjasama kebudayaan dan mengenai kerjasama pelatihan diplomatik antara Kementerian Luar Negeri kedua negara.






